CERPEN 6 Edisi Ramadhan: Rasa yang Melebihi Batasnya

Rasa yang Melebihi Batasnya

Rasa yang Melebihi Batasnya - AksasraJingga.Com
Rasa yang Melebihi Batasnya - AksasraJingga.Com

Karya oleh Munfaridah Sufyan


وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ࣖ - ٤٣

Artinya: Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia. (QS. AS Syura: 43)

Raisya setengah berlari menuju tempat mengajarnya. Terlambat karena sang ibu terus saja mencerca di ponsel menanyakan kapan dia kembali pulang. 

Sebenarnya saat itu ia hanya pergi berkunjung ke rumah pamannya—Lukman—di Surabaya, tetapi bersamaan dengan itu ustazah yang mengajar di yayasan Lukman juga datang untuk meminta ijin cuti sebab orang tuanya sakit. Akhirnya, Lukman berinisiatif agar Raisya saja yang menggantikan, sebagai mengisi waktu luangnya setelah ujian sekolah. 

Raisya semakin mempercepat langkahnya sambil menggenggam beberapa buku agar tak terjatuh. 

"Assalamu'alaikum, Adik-adik, sudah berdo'a?“ tanya Raisya kepada anak didiknya yang rata-rata masih berumur belasan tahun setelah sampai. Santri Yayasan Pendidikan Islam Al-Ikhlas. 

"Sudah," jawab mereka serempak dan antusias. 

"Besok sudah memasuki bulan apa? Siapa yang tahu?“

"Bulan Ramadhan, Kak!“

"Pintar, Berarti besok kita berpuasa, ya, Adik-adik. Malam nanti kita juga akan melaksanakan salat Tarawih kemudian sahur di dini hari sebelum imsak Subuh. 

Puasa Ramadhan adalah wajib untuk dikerjakan oleh setiap umat muslim karena merupakan bagian dari perintah Allah SWT. Perintah atas ibadah ini pun telah disebutkan di berbagai dalil baik Alquran maupun Hadis.

Adapun dalil Alquran dapat kita temukan dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya: 'Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.' (QS. Al Baqarah: 183)," jelas Raisya. Santri-santri mendengarkan dengan seksama.

"Bagaimana niat doa puasa, masih ingat?"

Kompak para santri menjawab, "Masih,

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى."  

"Niat puasa ini diucapkan sebelum melaksanakan puasa. Bisa ketika Sahur atau di malam hari setelah Tarawih, ya, Adik-adik! Jangan lupa," lantang Raisya lagi. 

"Iya, Kaaaak." 

"Sekarang Kakak akan menjelaskan kapan waktu berbuka puasa. Waktu berbuka puasa ditandakan tenggelamnya matahari atau lebih mudahnya dengan berkumandangnya Azan Magrib. Jadi tetap menunggu Azan Magrib dulu, meski di setiap wilayah menunjukkan pukul yang berbeda-beda karena yang dihitung bukan berapa jam, melainkan pergerakan dari perputaran matahari. Meski begitu, niat do'a berbuka tetap sama. 

Terus bagaimana doa berbukanya?" 

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت بِرَحْمَتِكَ " اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ."

"Pintar semuanya,“ puji Raisya melanjutkan menerangkan hal yang membatalkan puasa beserta rukunnya. Waktu terus merambat hingga pukul 16:45 WIB pelajaran diakhiri dan pulang. 

Kembali sepi, gadis cantik berumur tujuh belas tahun itu tertegun menatap langit yang membentang di hadapannya. Berdiri di depan jendela dengan menyabukkan kedua tangan ke pinggang. Entah, sudah beberapa hari ini Raisya sangat menikmati tempat ini. Tempat baru. 

Saat rasa sakit melebihi batasnya, maka hanya satu hal yang dia inginkan, pergi. Pergi, lari dan menjauh. Bukan untuk menghindar, sekedar memberi jeda pada dirinya sendiri untuk mengatur ulang semua yang terlanjur berserak. 

Sejak ayahnya meninggal, buku lain dari kehidupannya juga ikut terbuka. Kehidupan yang sama sekali tak pernah terlintas akan melewatinya. 

Ibunya menikah lagi, menjadi istri kedua dan pergi meninggalkan kampung halaman. Seperti terbuang tanpa melakukan apa-apa. Memang bukan dia, tapi ibunya. Namun, apa bedanya bila dia dan ibunya adalah satu paket komplit. 

Raisya memandang langit dengan tatapan yang entah. Sedu sedan bercampur amarah yang terpendam membakar isi dalam dada. Membuatnya sangat rapuh. 

Mulutnya masih terkatup rapat, tapi tidak untuk hatinya. Sedari tadi perdebatan rumit terjadi di sana. Antara menggenggam dan melepaskan. Bersama ibunya bagaikan menggenggam bara api di tengah badai salju, di mana keduanya adalah simalakama. Bila terus menggenggam, dia takut tangannya akan terbakar. Namun, bila melepaskan dia tak sanggup  membeku di perjalanan. 

Raisya mendongak dengan pandangan nanar. Matanya memanas bersama gemuruh yang kian menyesak. "Masih ada. Rasa ini masih ada di dada, meski Ayah pergi begitu saja. Ayah, mampukah aku bertahan tanpa kehadiranmu lagi? Tuhan, aku merindukannya," gumam Raisya membatin. Menghidu aroma tanah yang menguar bersama tetesan air dari langit yang baru saja turun. Masih terasa begitu nyata hangatnya pelukan sang ayah yang meneduhkan, tak menyangka semua itu kini menghilang. Menghilang lenyap menjadi kenangan yang tersimpan rapi di hati. 

Gerimis melandai, rinainya semakin pekat hingga menjadi hujan. Tak terasa seulas senyum tiba-tiba terbit begitu saja dari bibirnya ketika segerombolan anak-anak didiknya berlarian sambil berkejaran menghindari hujan. Ternyata benar selalu ada tawa di balik hujan, karena luka pelan-pelan akan terlihat samar. 

🌺🌺🌺

"Sya, kapan kamu kembali?“ Terdengar pekikan suara dari dalam ponsel ketika tombol hijau tengah itu digulirkan. Raisya menjauhkan kepalanya sejenak. Memutar bola mata karena kesal. 

"Assalamu alaikum, Buk. Raisya belum bisa memberi jawaban. Ustazah yang Raisya gantikan belum kembali. Mungkin lebih tepatnya seharusnya hal ini Ibuk tanyakan sendiri kepada Paman Lukman," jelas Raisya dengan suara datar. Menghembuskan napas dengan sangat pelan agar tak terdengar ke seberang sana. Entah, setiap berbicara dengan ibunya moodnya mendadak langsung merosot turun drastis. Celekit-celekit nyeri itu langsung menjalar begitu saja membuat paru-paru harus bekerja dengan begitu keras. 

"Wa alaikumus salam. Maaf, Ibuk cemas kamu tak pernah memberi kabar. Ayah juga selalu menanyakanmu. Ibuk bingung."

Semakin terasa melebar luka itu. Tak terbendung lelehan air asin itu kini mengalir. Mengingat andai yang dimaksud itu adalah ayah yang sudah tenang di sisi-Nya mungkin dia sangat bahagia, tetapi ini adalah ayah yang lain. Ayah yang menikahi ibunya lima tahun yang lalu. 

"Ibuk tak perlu khawatir, Raisya cukup besar dan bisa menjaga diri sendiri. Lagian apa yang bisa Raisya lakukan di yayasan Paman Lukman? Semua akan baik-baik saja."

"Haruskah Ibuk mengunjungimu?“ potong Sarah dengan cepat. 

"Tak usah jaga diri Ibuk baik-baik saja. Di sini Raisya tak kekurangan apa pun."

"Raisya-"

"Iya, Tan!" teriak Raisya berbohong, "maaf, Raisya dipanggil Tante." 

Jlep! 

Raisya mendengus, meraup oksigen dengan rakus. Menatap atap kamar dengan perasaan yang berkecamuk, sulit untuk melukiskan. Ada rindu, bahkan ingin memeluk, tetapi karena pilihan ibunya yang mau menjadi istri kedua tidak mampu ia terima sampai saat ini. Begitu banyak orang yang mempertanyakan karakternya gara-gara ini, menjadikan dirinya menjadi bahan cemoohan dan dikucilkan. 

Begitu banyak lelaki lajang, kenapa harus menjadi yang kedua. Rutuk hati Raisya sangat kesal. Apalagi tiga bulan kemudian ibu pertama sakit-sakitan dan dua bulan kemudian meninggal. 

Berbagai ucapan buruk Raisya terima. Banyak tuduhan keji yang siap menghidang ketika keluar rumah. Menjadikan Raisya sangat terpuruk dan menurutnya satu-satunya orang yang patut disalahkan atas semua kepelikan ini adalah ibunya. Sejak itu ia mulai membentang jarak pembatas. Pelan-pelan membenci ibunya hingga kini tak tahu seberapa tinggi gunung dendam yang dia ciptakan. 

Tok! Tok! 

"Assalamu alaikum." 

"Wa alaikumus salam," balas Raisya ogah-ogahan beranjak dari tempat rebahan. 

"Tante boleh masuk?“ tanya Asih lembut. Raisya hanya mengangguk kemudian melebarkan pintu. 

"Boleh Tante tanya sesuatu?“ tanya Asih menggenggam jemari Raisya, menatap gadis di hadapannya lekat-lekat. Raisya mengangguk pasrah, dia yakin pasti ini adalah pembahasan yang tidak menyenangkan. 

"Setiap muslim pasti pernah mendapatkan musibah dan berada di tempat yang pelik meski berbeda-beda bentuk musibahnya. Ada yang diuji dengan kelaparan, kesehatan, keluarga dan lainnya. Semua itu tak lain karena Allah sangat menyayangi muslim tersebut. Seolah dengan semua kepelikan yang ada pada muslim tersebut, ada dorongan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. 

Maka dari itu islam mengajarkan setiap muslim untuk selalu bersikap ikhlas, sabar dan pemaaf. Muslim yang bersedia memaafkan kesalahan orang lain Allah akan memuliakannya. Bahkan, Allah juga menyiapkan segudang pahala untuk orang tersebut. Menempatkan muslim tersebut bersama muttaqin nanti di jannah. 

Sabar, ikhlas dan memaafkan juga termasuk sunnah Rasulullah yang harus kita teladani. Jadi  …." Asih terdiam sejenak. Mengatur napas sambil meremas jemari Raisya dengan halus. 

"Kamu masih marah sama Mbak Sarah? Sampai kapan? Kemarahan itu bisa menghitamkan hati. 

Ingat, Sya! Kalau kamu gini terus, kamu enggak bakalan tenang dan damai. Kamu tahu enggak?! Mukmin yang memperoleh kesenangan abadi di akhirat nanti salah satunya ialah orang-orang yang apabila amarahnya timbul, mereka diam menahan amarahnya, memaafkan orang yang menyebabkan kemarahannya, dan tidak ada dalam batinnya sedikit pun rasa dendam."

"Tapi, aku enggak salah, Tan! Semua gara-gara Ibuk. Aku benci Ibuk!“ teriak Raisya tiba-tiba. Dia tak suka dengan tantenya yang seolah menyudutkan. Merasa jengkel karena titak satu pun orang yang mampu mengerti perasaannya. 

"Ibuk kamu pasti sudah menimbang semua ini dengan banyak perhitungan. Percayalah, Mbak Sarah hanya ingin yang terbaik buat kamu."

"Menjadi bahan olokan semua orang. Anak tukang teluh, anak pelakor, anak  … hu-hu-hu," histeris Raisya pecah. Kembali semua hinaan itu berputar seperti kaset rusak yang menyeramkan. 

Asih terdiam sejenak. Tak lagi berkata-kata. Dia tak menyangka bully-an yang dirasakan Raisya ternyata meninggalkan luka yang dalam. 

"Dulu Tante juga pernah membenci kedua orang tua Tante karena Tante rasa mereka pilih kasih. 

Mereka lebih memprioritaskan Bang Jamal daripada Tante. Tante hanya disekolahkan sampai SMA kemudian mengabdi di pesantren sedang Bang Jamal berkesempatan untuk kuliah. Tante tak terima, sejak itu berubah selalu kasar dan menjadi pembangkang. 

Sekarang setelah mereka sudah tiada dan Tante menjadi orang tua. Tante baru mampu memahami jalan yang mereka ambil. Tante menyesal, tapi penyesalan itu tak lagi bisa diperbaiki. Semua sudah terlambat. Mereka tak lagi di sisi Tante. Tante tak bisa memeluk mereka, apalagi meminta maaf. 

Jangan menyesal seperti Tante di kemudian hari. Mumpung mereka masih ada. Seburuk apapun mereka, mereka tetap orang tua kita. Apalagi ibumu hanya berada di tempat yang kurang tepat saja. Bukan kesalahan. 

Berdamailah dengan keadaan. Tante sangat menyesal,Sya! Kamu masih bisa memeluknya, memperbaiki keadaan, sedangkan Tante  …." Asih tergugu, memeluk Raisya dengan erat. Dia selalu terpuruk setiap mengingat perilakunya di masa lalu. Andai dia tahu kehilangan orang tua sesakit ini, mungkin dulu dia bisa menerima nasehat-nasehat kedua orang tuanya dengan bijak. 

Raisya termenung. Cerita tantenya membuatnya merinding sendiri apabila dia juga kehilangan ibunya. Tak sanggup. Dia sudah kehilangan ayahnya, lalu apa kabar dunia kalau sang ibu juga meninggalkan. 

🌺🌺🌺


"Sya, yuk ikutan ngaji kultum Ramadhan, jangan pulang dulu,ngabuburit di sini sampai Magrib," ajak Asih ketika mereka usai salat Asar. 

Raisya hanya menimpali dengan senyum kemudian melipat mukenanya. 
Perasaannya sudah membaik sejak berbicara dari hati ke hati bersama tantenya kemarin. 

Selain ingin berbaik dengan keadaan, dia juga ingin menikmati suasana Ramadhan di tempat baru ini. Menurutnya banyak persiapan yang harus di tata mulai saat ini. Dia membutuhkan kenyamanan dan mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kenyataan di kemudian hari karena bagaimanapun dia akan kembali pulang. Kembali bertemu dengan wajah-wajah yang tidak ingin dia lihat. 

Raisya menyimak dengan khidmat setiap ucapan pamannya. Ada desir nyaman sekaligus haru ketika memandang dan mendengar suara adik dari ayahnya itu. Begitu banyak kemiripan, membuat dahaga rindu yang menyeruak sedikit terobati. 

Ya, inilah alasan kepergiannya saat itu, ketika rindu kepada sang ayah tak lagi tertahan, hanya ada satu angan di benak. Dia begitu merindukan Lukman. Ingin bertemu dan memandang sejenak, tak banyak. 

"Nabi Muhammad SAW dulu juga dicemooh oleh orang Makkah, bahkan hingga ada yang melemparinya kotoran. Namun apa? Beliau tak membalasnya dengan perbuatan yang sama keji, Beliau malah mendoakan yang baik-baik. Subhanallah, sungguh teladan yang patut untuk ditiru. 

Teruslah beramar makruf nahi munkar. Maafkan mereka. Redam semua amarah karena semua itu berasal dari bisikan syaitan. 

Bila hati masih terpercik sakit, maka salatlah! Meminta petunjuk dan mendekatkan diri memohon agar hati kita bisa tentram dan damai. 

Seperti Firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 153 yang artinya: 'Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.'

Jadi, anggap saja semua hal di dunia ini hanya cobaan dan semua cobaan akan bertingkat sesuai kekuatan kita  ...," terang Lukman menjelaskan. Raisya mendengar dengan pandangan nanar. Kilauan mutiara di ujung mata sudah menjadi pendar yang bersinar sedari tadi. 

Raisya terus mendengar ceramah pamannya dengan khusyuk. Berbagai bayangan melintas, seperti film di mana dialah yang menjadi tokoh utamanya. Mulai menyadari ternyata tingkatan sabar yang dia miliki belum berpijak kuat karena belum mampu memaafkan keadaan. 

Hati Raisya tersentuh, ingin segera pulang dan meminta maaf kepada ibunya, kepada ayah sambungnya karena tak pernah bersikap ramah. Bertekad dalam hati bila pulang nanti dia akan menulikan telinga dan hanya menganggap hidupnya hanya untuk ibadah. Jadi, suka maupun duka tak lagi berarti karena yang ia capai bukan untuk kebahagiaannya sendiri, melainkan kebahagiaan dia bersama Tuhannya kelak. Bersama ke surga bersama semua keluarga; dia, ibu, ayah, dan keluarga lainnya. 

Raisya menunduk, memejamkan mata terhanyut oleh doa yang dipanjatkan hingga remasan hangat menyentuh bahunya. Raisya membuka mata dengan terbelalak tak percaya, "Ibuuuuk!"

Sekian.

Post a Comment

Previous Post Next Post